HM Rasyidi dan Harun Nasution

A. HM RASYIDI

  • Biografi HM Rasyidi

Nama lengkapnya adalah Prof. Dr. Haji Muhammad Rasyidi yang dilahirkan di Kotagede pada 20 Mei 1915. Ayahnya bernama Atosudiglo, seorang pengusaha batik yang sukses dan berpengaruh. 

Pendidikan dasar HM Rasyidi ia tempuh di sekolahan Ongkoloro. Setelah itu ia melanjutkan di sekolah Muhammadiyah yang waktu itu terkenal dengan nama Kweekschool Muhammadiyah. Kemudian melanjutkan ke perguruan Muhammadiyah karena disamping mempelajari ilmu pengetahuan ia juga tertarik untuk mempelajari ilmu agama.

Pada tahun 1931 M ia melanjutkan pendidikannya ke Mesir di Madrasah Daarul Ulum untuk persiapan sebelum memasuki sekolah tinggi, disana ia mendalami ilmu-ilmu keislaman seperti Bahasa Arab, Tafsir, Hadits, dan Fiqih. Setelah ia mempelajari ilmu-ilmu di Daarul Ulum kemudian ia melanjutkan kuliah di Universitas Kairo dan mendalami filsafat agama. Pada tanggal 14 November 1945 beliau diangkat menjadi Menteri Negara pertama dalam Kabinet Syahrir I.

Tepatnya pada tanggal 3 Januari 1946, ia diangkat menjadi Menteri Agama RI pertama di usia 31 tahun. Rasyidi juga sempat menjabat menjadi duta besar Indonesia yang menjadi anggota perwakilan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang waktu itu bermarkas di Paris. Pada tahun 1960 beliau bersama tokoh-tokoh lainnya merintis Universitas Islam Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta. Pada tahun 1965 ia bergabung dengan Rathihah Alam Islamy di Jakarta bersama Muhammad Natsir kemudian mendirikan Dewan Islamiyah Indonesia, ia aktif disana hingga ia wafat pada tanggal 30 Januari 2001.

  • Karya HM Rasyidi

a. Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Majdid Tentang Sekulerisasi

b. Filsafat Agama

c. Islam di Indonesia di Zaman Modern

d. Keutamaan Hukum Islam

e. Islam dan Kebatinan Islam Menentang Komunisme

f. Islam dan Sosialisme 

  • Pemikiran HM Rasyidi

 a. Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu

Tuhan telah memberi akal kepada manusia sehingga dengan akal itu manusia dapat memikirkan hal-hal yang melingkunginya dengan alam kehidupannya. Mengenai akal, beliau berpendapat bahwa akal tidak mampu mengetahui baik dan buruk, hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya aliran eksistensialisme sebagai reaksi terhadap aliran nasionalisme dalam filsafat Barat.

b. Perbuatan Manusia 

Manusia mempunyai hak dan kebebasan dalam kehidupannya untuk menuju ke arah yang lebih baik yang diinginkannya. Begitu pula halnya kebebasan dalam beragama. Berdasarkan informasi dan pedoman dari Al Quran bahwa manusia itu bebas untuk memilih kepercayaan sesuai keyakinan karena tidak ada paksaan untuk memeluk suatu agama.

c. Konsep iman 

Iman bukan pikiran namun sebagai semboyan "Credo Ut Intelligan" yang artinya aku percaya agar aku dapat mengerti, bukan aku mengerti maka aku percaya.  

B. HARUN NASUTION

  • Biografi Harun Nasution
Harun Nasution lahir pada 23 September 1919 di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ayahnya bernama Abdul Jabar Ahmad, seorang ulama kelahiran Mandailing. Sedangkan ibunya bernama Maimunah berasal dari Tanah Bato, dan masa gadisnya pernah bermukim di Mekkah dan pandai Bahasa Arab.
Harun Nasution mulai menempuh pendidikannya pada Sekolah Dasar milik Belanda yaitu Bollandsch Isnandsh School (HIS). Ia melanjutkan studi Islam ke tingkat menengah yang bersemangat modernis, Modern Islamictische Kweekschool (MIK). Karena desakan orang tua, ia meninggalkan MIK dan belajar ke Saudi Arabia. Di negeri gurun pasir ini, ia tidak tahan lama dan pindah ke Mesir. Di negeri Sungai Nil ini, Harun mula-mula mendalami Islam di Fakultas  Ushuluddin di Universitas Kairo, namun ia merasa tidak puas dan kemudian pindah ke Universitas Amerika di Kairo, mendapat gelar sarjana muda. Ia menerima beasiswa di Institut Of Islamic Studies Mc Gill di Motreal, Canada. Pada tahun 1965 ia memperoleh gelar magister dari Universitas tersebut, Tiga tahun berikutnya, ia memperoleh gelar Doktor (ph.D) dalam bidang studi Islam pada Universitas Mac Gill. Pada tahun 1969 Harun kembali ke Indonesia, melibatkan diri pada bidang akademis yaitu menjabat sebagai Rektor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 11 tahun, menjadi Ketua Lembaga Pembinaan Pendidikan Agama IKIP Jakarta, dan terakhir menjadi Dekan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Setelah Harun Nasution mengalami periodesasinya sampai akhirnya ia meninggal dunia pada 18 September 1998. 
  • Karya Harun Nasution 
a. Filsafat Agama
b. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam
c. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan
d.Akal dan Wahyu dalam Islam
e. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu'tazilah
f. Islam Rasional
  • Pemikiran Harun Nasution
a. Peranan akal, Harun menulis demikian "akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akal lah, manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukan kekuatan makhluk lain disekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah tinggilah kesanggupannya menghadapi kekuatan-kekuatan lain tersebut"
b. Pembaharuan teologi, retorika ini mengandung pengertian bahwa umat islam dengan teologi fatalistik, irasional. pre-determinisme, serta penyerahan nasib telah membawa nasib mereka menuju kesengsaraan dan keterbelakangan. Dengan demikian, jika hendak mengubah nasib umat islam, menurut Harun Nasution, umat Islam hendaknya mengubah teologi mereka menuju teologi yang berwatak free-will, rasional, serta mandiri.
c. Hubungan akal dan wahyu, ia menjelaskan bahwa hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al Quran. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan.


Komentar

  1. Bagus, semoga senantiasa istiqomah dalam berkarya, ditunggu karya-karya selanjutnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

its me