Hasan Hanafi Dan Ismail Faruqi

A. HASAN HANAFI

  • Biografi Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir pada tanggal 13 Februari 1935 di Mesir. Pendidikan dasarnya di Madrasah Sulaiman Gawaiys dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA) di Madrasah Khalil Agha. Lalu beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Kairo, Mesir jurusan Filsafat kemudian melanjutkan ke Doktorat d'etat La Sorbone Perancis dan meraih gelar doktor pada tahun 1966. Masa kecil Hasan Hanafi dekat dengan penjajahan dan bangsa asing sehingga dalam jiwanya tumbuh sikap patriotik dan nasionalisme. Pengalaman semasa muda yang beliau lalui menjadikannya mengabdikan diri dalam kegiatan-kegiatan pergerakan di Mesir dan perjalanannya ke banyak negara serta pengalamannya mendalami ilmu membuat analisis dan pemikirannya yang semakin tajam  sehingga memacu semangatnya untuk menulis dan mengembangkan pemikiran baru untuk membantu menyelesaikan masalah dalam dunia Islam.

  • Karya Hasan Hanafi
a. Essai sur la Methode d'Exegese (Esai tentang metode penafsiran)

b. Al turats wa Al Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan)

c. Al Din wa al Tsaurah fi Mishr

d. Dirasat Islamiyyah

e. Religion, Ideology, and Development

f. Islam in the Modern World

  • Pemikiran Hasan Hanafi
a. Kiri Islam, suatu gerakan dengan tujuan membela kaum yang tertindas. Yang bertugas untuk mengatasi keterbelakangan dan mewujudkan revolusi pemikiran yang didasari revolusi sosialis melalui kecerdasan dan kesadaran umat.

b. Proyek Al Turats wa Al Tajdid, upaya untuk mewujudkan kebangkitan Islam dan kesatuan umat. Proyek ini memiliki tiga fokus utama yang menunjukkan hubungan dialektis antara umat Islam dengan barat, yaitu sikap diri terhadap tradisi klasik, sikap diri terhadap tradisi barat, Dan sikap diri terhadap realitas. 

c. Pandangan terhadap teologi, teologi haruslah bersifat obyektif sehingga diperlukan perubahan teologi. Perubahan teologi tidak harus menghilangkan tradisi-tradisi lama, namun teologi sebagai pelindung dari ancaman-ancaman baru dengan menggunakan konsep yang terpelihara murni dalam sejarah. Hasan Hanafi mengusung konsep teologi baru dengan tujuan menjadikan teologi tidak hanya sebagai dogma keagamaan yang kosong namun mampu sebagai ilmu tentang perjuangan sosial dan keimanan sebagai landasan etik dan motivasi dalam tindakan manusia. 

B. ISMAIL FARUQI

  • Biografi Ismail Faruqi
Ismail Faruqi lahir di Kota Jaffa, Palestina pada 1 Januari 1921. Ayahnya bernama Abdul Huda Al Faruqi. 

Pendidikannya dimulai pada tahun 1926 hingga 1936 di College De Freres, Lebanon. Pendidikan tingginya ia jalani di beberapa universitas, yaitu di Universitas Amerika, Beirut lulus sebagai sarjana muda lalu ia melanjutkan ke Universitas Indiana, Amerika Serikat dengan meraih gelar master di bidang Filsafat, lalu melanjutkan lagi ke Universitas Havard dengan meraih gelar master keduanya, kemudian kembali lagi me Universitas Indiana untuk menyelesaikan pendidikan doktoral dan meraih gelar Ph.D (philosophy of doctor), kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Kairo guna memperdalam ilmu agamanya, dan yang terakhir beliau menerima beasiswa sebagai mahasiswa tingkat doktoral di fakultas teologi, Universitas McGill, belajar tentang Kristen dan Yahudi.

Pada tahun 1972, beliau mendirikan The Association of Muslim Social Scientist (himpunan ilmu sosial muslim) dengan tujuan islamisasi ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosial. Hidup Ismail Faruqi ditutup dengan wafat bersama istrinya karena ditikam oleh seorang laki-laki yang menyelinap masuk ke rumahya. 

  • Karya Ismail Faruqi
a. Islamization of Knowledge : General Principles and Workplan (Islamisasi Pengetahuan)

b. A Historical Atlas of the Religion of the word (Atlas Historis Agama Dunia)

c. Trialogue of Abrahamic Faiths (Trilogi Agama-agama Abrahamis)

d. Islam and Culture (Islam dan Kebudayaan)

e. Al Tawhid : It's Implications for Thought and Life

f. Islamic Thought and Culture, Essays in Islamic and Comparative Studies)

  • Pemikiran Ismail Faruqi
a. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Hal yang melatarbelakangi pemikiran ini adalah adanya pemikiran bahwa Islam membeda-bedakan antara ilmu agamanya dengan sains. Selain itu, adanya pemikiran ini merupakan tanggapan dari krisisnya sistem pendidikan Islam, yaitu dualisme sistem pendidikan Islam dan modern (sekuler) yang membingungkan umat Islam sehingga perlu dilakukan perubahan pada pemikiran Islam, artinya kaum muslim tidak hanya menguasai ilmu agama saja namun juga ilmu modern maka tercetuslah islamisasi ilmu pengetahuan.

b. Pan Islamisme (Persatuan Negara-Negara Islam)

Al Faruqi tidak menolak akan berkembangnya nasionalisme yang membuat umat Islam terpecah belah. Menurutnya sistem khalifahlah yang paling sempurna. Dengan khalifah bukan berarti keragaman akan lenyap justru akan terlindungi karena itu wajib dilakukan termasuk melindungi pemeluk agama lain. 

c. Pluralisme

Menurutnya, keragaman agamanya dan budaya merupakan suatu yang mutlak. Sesuai dengan sunnatullah bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan sengaja dibuat dengan keragaman tanpa terkecuali agama. Keragaman adalah kepastian dan bagian dari kehendak Tuhan. Dengan seperti ini, setiap pihak dapat melakukan apapun yang dianggap benar tanpa memaksakan keyakinan terhadap pihak lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HM Rasyidi dan Harun Nasution

Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

its me