Aliran Mu'tazilah dan Aliran Syi'ah

 A. ALIRAN MU'TAZILAH

  • Sejarah Perkembangan Aliran Mu'tazilah

Aliran Mu’tazilah pertama kali muncul di Kota Basrah (Iraq) pada abad ke 2 H, tepatnya ketika masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hasyim bin Abdul Malik. Aliran ini dipelopori oleh salah seorang penduduk Basrah yaitu Wasil bin Atha’, ia adalah mantan murid dari Hasan Al Basri. Wasil bin Atha’ berpendapat jika muslim yang berbuat dosa besar itu bukan mukmin, bukan pula kafir, tetapi fasik. Akan tetapi, Imam Hasan Al Basri berpendapat jika mukmin yang berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan antara murid dan guru.

  • Tokoh Aliran Mu'tazilah 

a. Wasil bin Atha’. Pemikiran beliau adalah :

- Mukmin yang melakukan dosa besar dihukumi tidak mukmin dan tidak pula kafir, tetapi fasik dan keberadaan orang tersebut diantara mukmin dan kafir.

- Mengenai perbuatan manusia. Manusia memiliki kebebasan, kemampuan, dan kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.

- Tentang sifat Allah. Wasil berpendapat jika Allah tidak memiliki sifat. Apa yang dianggap orang sebagai sifat Allah tidak lain adalah zat Allah sendiri

b. Abu Huzail Al Allaf. Paham yang dikemukakan oleh Abu Huzail antara lain

- Abu Huzail menolak sifat-sifat Tuhan.

- Akal manusia dapat mengetahui kebaikan dan keburukan meskipun tidak ada petunjuk dari wahyu.

- Tentang kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatannya untuk melakukan perbuatan baik atau buruk. 

c. Al Jubbai

 Ia mempunyai pola pikir yang tidak jauh dengan tokoh Mu’tazilah lainnya, yakni mereka mengutamakan akal dalam memahami dan memecahkan persoalan teologi. 

d. Az-Zamaksyari. 

Beliau menyusun kitab tafsir Al Kassyaf yang berorientasi pada faham Mu’tazilah.

  • Ajaran Pokok Mu'tazilah

a. Tauhid

Mu’tazilah menolak sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri di luar zat Tuhan. Hal ini bukan berarti Tuhan tidak bersifat, tetapi sifat-sifat itu tidak terpisah dari zat-Nya

b. Janji dan Ancaman

Golongan Mu’tazilah yakin akan janji Tuhan yang memberikan pahala dan ancaman. Tuhan pasti menjatuhkan siksa atau neraka bagi siapa saja yang berbuat kejahatan. Dan Tuhan pasti akan memberikan pahala kepada orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan.

c. Al Adl

Mu’tazilah mengatakan jika wajib bagi Tuhan mendatangkan yang baik dan terbaik bagi manusia. Keadilan Tuhan menuntut kebebasan bagi manusia karena tidak ada artinya syari’ah dan pengutusan Nabi dan Rasul kepada yang tidak memiliki kebebasan. Maka dari itu, dalam pandangan Mu’tazilah, manusia bebas menentukan perbuatannya. 

d. Tempat diantara dua tempat

 kefasikan adalah suatu hal yang berdiri sendiri antara iman dan kufur. Tingkatan orang fasik di bawah orang mukmin dan di atas orang kafir. 

e. Amar ma’ruf nahi munkar

Ajaran ini memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

menurut Mu’tazilah, dapat menggunakan kekerasan jika diperlukan demi mewujudkan amar ma’ruf nahi munkar.

  • Dalil Landasan Aliran Mu'tazilah

a. Q.S Asy-Syura : 11

b. Q.S Yasin : 54

c. Q.S An Nisa : 111

d. Q.S Ali Imran : 104

B. ALIRAN SYI'AH

  • Sejarah Perkembangan Aliran Syi'ah

Mazhab ini muncul berawal dari gejolak politik di awal-awal islam. Awalnya, sebagian orang hanya berpihak kepada keluarga ahli bayt (Ali dengan istrinya Fatimah binti Rasul dan keturunannya). Setelah terbingkai dan mengkristal dalam suatu mazhab syiah, mulailah Ali dan keturunannya diyakini sebagai imam-imam yang bersih dari dosa (ma’sum) dan juga mewarisi Nabi, baik dalam kepemimpinan ummat maupun syari’at. 

  • Tokoh Aliran Syiah


a  Murtadla Al Asykari, menyebutkan hadits palsu yang menyatakan bahwa ketiga khalifah sebelum Sayyidina Ali adalah “imam-imam sesat dan pelopor yang mengajak ke dalam neraka."

b. Muhammad Ridla Al Mudzaffar di dalam kitabnya “Aqaid Al Imamiyah”, beliau menyisipkan kalimat yang artinya Sayyidina Ali meyakini bahwa tiga khalifah sebelum beliau telah merampas hak beliau.

c. Muhammad Husein Ali Kasyif Al Ghita dalam “Ashlu Al Syiah wa Ushuliha” ia menulis bahwa Sayyidina Ali tidak mau berbaiat kepada khalifah-khalifat tersebut maka bisa berakibat timbulnya tindakan-tindakan mereka yang membahayakan islam. 

d. Khumaini, ia banyak melakukan kecaman-kecaman pedas khususnya kepada Abu Bakar dan Umar. 

  • Ajaran Pokok Aliran Syiah 

a. Tauhid 

Kaum Syiah meyakini bahwa Allah itu Esa,

b. Al Adl

Allah selalu melakukan perbuatan yang baik dan tidak akan meninggalkan sesuatu yang wajib dikerjakanNya.

c. An Nubuwwah 

Kaum Syiah meyakini jika Allah mengutus Nabi dan Rasul untuk membimbing umat manusia. 

d. Al Imamah

Bagi kaum Syiah, imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia.  Kaum Syiah berpendapat yang berhak menjadi pemimpin hanyalah seorang imam keturunan Nabi Saw.

e. Al Ma’ad 

 Kaum Syiah percaya bahwa hari akhirat itu pasti terjadi. Menurut keyakinan mereka, manusia kelak akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhan akan dikembalikan ke asalnya, baik daging, tulang, maupun ruhnya dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

  • Dalil Landasan Aliran Syiah 
a. Q.S As Sajdah : 24

b. Q.S Al Isra : 71

Perbandingan Pemikiran Aliran Mu'tazilah dan Syiah

- Akal dan Wahyu

Mu'tazilah : Sebelum datangnya wahyu, akal dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan kebaikan dan keburukan 

Syiah: Akal dapat mengetahui Tuhan, baik buruk serta mengetahui kewajiban kepada Tuhan, tetapi wahyulah yang menetapkannya. 

- Iman dan Kufur

Mu’tazilah : Pelaku dosa besar hanya dikatakan fasiq, bukan mukmin dan bukan pula kafir. 

Syiah : Orang yang melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraka, jika ia belum bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya.

- Perbuatan Manusia

Mu’tazilah : manusia sendiri lah yang mewujudkan perbuatannya, 

Syiah: Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.

- Kehendak dan Keadilan Tuhan

Mu'tazilah: Allah itu tidak berkuasa mutlak. Allah memberikan pahala dan siksa kepada manusia sesuai dengan apa yang diperbuat. 

Syiah : Manusia boleh jadi bisa mewujudkan kehendaknya sendiri. Allah sudah memberikan wewenang kepada manusia sehingga Allah pasti memberikan pahala dan hukuman atas perbuatan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HM Rasyidi dan Harun Nasution

Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

its me